Perang mungkin salah satu kondisi yang tidak pernah lepas dari bangsa Israel. Bangsa yang berpenduduk kaum Yahudi ini bertumpu paham Zionisme yang menjadi salah satu kekuatan besar mereka. Bangsa Israel bertumpu pada ideologi Zionisme mereka dan memegang prinsip bahwa ideologi ini harus lebih didasarkan pada solidaritas rasial dan keagamaan daripada kesatuan wilayah dan tanah air. Namun, sebagai bangsa yang hidup di diaspora (perantauan, pengembaraan, pengasingan) menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran bagi mereka. Mereka menyangsikan semakin lebarnya jurang antara cita-cita ideologi mereka dengan realitas yang mereka hadapi. Sehingga, merekapun melakukan konfrontasi dengan bangsa Palestina dan bangsa Arab pada umumnya. Mereka melakukan migrasi ke Palestina dan menetapkan Palestina sebagai “promised land” yang harus mereka rebut dan menjadikannya sebagai wilayah mereka. Perilaku mereka ini berangsur mengubah ideology Zionis mereka menjadi ideologi dan gerakan politik untuk menguasai wilayah di Palestina dan mewujudkan “tanah yang dijanjikan” di Palestina. Untuk mencapai hal ini berbagai konflik dan konfrontasi mereka ciptakan antara mereka dan negara-negara Arab, khususnya Palestina.

Menanggapi sikap dan perilaku Israel yang kurang ajar itu, negara-negara Arab menabuhkan genderang perang pada bangsa Israel. Negara-negara Arab yang sangat mengutamakan solidaritas  antar sesama negara Islam, sangat menentang penindasan-penindasan dan intervensi pada umat Islam secara bersama  menetapkan Israel sebagai  musuh bersama mereka. Mereka mengadakan berbagai perlawanan terhadap Israel baik secara djplomatif dan konfrontatif. Berbagai jalan diplomasi diusahakan dan perang dipecahkan antara bangsa-bangsa Arab untuk melawan perlakuan bangsa Israel. Salah satu perang antar bangsa Arab dan Israel adalah adalah perang yang pecah di antara mereka pada tahun 1967.

Perang antara Arab dan Israel pada tahun 1967 atau yang biasa disebut Perang Enam Hari merupakan perang yang terjadi antara Israel dengan gabungan tiga negara Arab, yaitu Mesir, Yordania, dan Suriah dengan mendapat bantuan aktif dari negara-negara Arab lainnya seperti Arab Saudi, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Sudan. Selain aktor-aktor tersebut pihak Amerika Serikat dan Uni Soviet juga turut memiliki andil atas terjadinya perang tersebut baik dari usaha mendukung masing-masing negara sampai menjadi salah satu pemicu peperangan ini.

Sesuai namanya Perang Enam Hari, perang ini berlangsung kurang dari enam hari atau selama 132 jam 30 menit namun berlangsung enam hari penuh di Suriah. Perang ini mulai pecah pada tanggal 5 Juni 1967 ketika Israel melancarkan serangan terhadap  pangkalan udara Mesir karena takut akan terjadinya invasi oleh Mesir yang telah mempersiapkan 1.000 tank dan 10.000 pasukan yang disiagakan sebelumnya di perbatasan dan memanggil negara-negara Arab lainnya untuk bersatu melawan Israel.

Adapun berbagai latar belakang yang menjadi penyebab terjadinya perang ini adalah :

  1. Akibat Perang Arab-Israel Pada Tahun 1948 Dan 1956

Kekalahan Arab pada perang Arab-Israel pada tahun 1948 dan 1956 menimbulkan ketidakpuasan pada bangsa Arab. Akibat kekalahan itu pasukan UNEF dari  PBB dikirim untuk berjaga-jaga di Semenanjung Sinai Untuk mengamankan daerah itu agar bebas dari tentara dan gerilyawan sehingga perang bisa terhindarkan untuk sementara. Walaupun hal ini sempat mewujudkan perdamaian Mesir dengan Israel, namun hal ini tidak serta merta menyelesaikan konflik. Pada tahun 1956 karena tidak adanya kepastian penyelesaian dan resolusi mengenai masalah-masalah itu menyebabkan keseimbangan yang tidak pasti antar negara-negara Arab dengan Israel. Hal itu membuat negara-negara Arab tidak mengakui kedaulatan Israel, sehingga membuat mereka meendorong gerilyawan-gerilyawan untuk menyerang sasaran-sasaran Israel.

  1. Pengangkut Air Nasional Israel

Pada tahun 1964, Israel mulai mengalihkan air dari Sungai Yordan Ke negara mereka. Hal ini membuat negara-negara Arab membuat rencana pengalihan air juga pada tahun berikutnya. Sehingga, pekerjaan pengalihan air Arab ini di serang oleh angkatan bersenjata Israel di Suriah pada bulan Maret, Mei, dan Agustus pada tahun 1965. Rangkaian kekerasan yang dilakukan Israel di sepanjang perbatasan menjadi salah satu peristiwa yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa lain yang nantinya akan memulai perang.

  1. Peristiwa Samu (Israel Dan Yordania)

Pada tanggal 12 November 1966, seorang polisi perbatasan Israel mnginjak ranjau yang menyebabkan terbunuhnya 3 tentara dan melukai 6 orang lainnya. Isrel menuduh bahwa ranjau itu ditanam oleh kelompok teroris Es Samu. Dari peristiwa itu, Israel mengirimkan pesan kepada Raja Yordania yaitu Raja Hussein bahwa Israel sama sekali tidak akan menyerang Yordania. Namun, Israel tetap meenyerang Es Samu dan menyerang 4.000 penduduk di dalamnya. Aksi ini membuat Israel dianggap melanggar piagam. Penyerangan ini juga menjadi salah satu penyebab perang-perang berikutnya.

  1. Israel Dan Suriah

Suriah yang mendukung serangan-serangan terhadap Israel yang sering memasuki Yordania, mulai menembaki komunitas rakyat Israel di timur Danau Galilea dari posisinya Dataran Tinggi Golan, sebagai bagian dari perselisihan atas penguasaan Zona Demiliterisasi, yaitu tanah kecil yang diklaim oleh Israel dan Suriah. Hal ini semakin memperbesar konflik yang terjadi antara Israel dan Suriah.

  1. Selat Tiran

Pada tanggal 22 Mei 1967, Mesir mengumumkan bahwa mulai dari tanggal 23 Mei 1967, Selat Tiran akan ditutup untuk “semua kapal yang mengibarkan bendera Israel atau membawa bahan-bahan strategik”. Nasser, presiden Mesir juga menyatakan, “Tidak akan membiarkan bendera Israel memasuki Teluk aqaba dengan alasan apapun.”

Melihat hukum internasional, Israel menganggap mesir menyalahi undang-undang jika negara tersebut menutup Selat Tiran. Negara-negara Arab pun memperdebatkan tentang hak Israel melewati selat Tiran karena mereka tidak menandatangani Konvensi PBB tentang peraturan laut terutama karena Pasal 16(4) yang memberikan hak itu pada Israel.

Israel memperhatikan penutupan selat itu secara serius dan meminta bantuan kepada Amerika Serikat dan Britania Raya untuk membuka selat Tiran seperti yang mereka janjikan. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab utama pecahnya perang enam hari.

Peristiwa-peristiwa tersebut menyebabkan banyak terjadinya perang-perang kecil antara Bangsa Arab dan Israel. Di tengah-tengah ketegangan tersebut, Uni Soviet memberikan keterangan kepada Presiden Mesir Gamal Nasser bahwa pasukan Israel sedang berkumpul secara besar-besaran di perbatasan Syria untuk menyerang negara tersebut. Pada kenyataannya, informasi tersebut tidak benar. Uni Soviet sendiri sengaja memberikan keterangan palsu itu untuk mengobarkan radikalisme di Dunia Arab guna membuat kesulitan bagi kepentingan Barat di wilayah tersebut.

Nasser, yang tidak tahu rencana Soviet tersebut, segera mengerahkan pasukan Mesir secara besar-besaran ke perbatasan Mesir-Israel tanpa mempedulikan kesepakatan gencatan senjata sebelumnya yang melarang pengerahan pasukan di sana. Mereka kemudian mengambil alih pos-pos penjagaan yang dijaga pasukan perdamaian PBB. Akan tetapi orang Mesir tidak bertindak sampai di situ. Mereka kemudian melakukan kerja sama militer dengan Suriah, Yordania dan Irak untuk mengepung Israel.

 

  1. A. Kronologi Peperangan

Perang mulai pecah ketika ketika Israel menyerang lebih dahulu. Israel menyerang lapangan terbang tempat di parkirnya pesawat-pesawat tempur milik negara-negara Arab khususnya Mesir. Serangan pre-emptive Israel ini dilakukan dengan cara serangan udara.  Gelombang pertama serangan udara Israel muncul di waktu subuh, dan dalam waktu bersamaan mereka menghancurkan empat lapangan terbang di Jazirah Sinai. Di situlah tempat Presiden Nasser dari Mesir menghimpun kekuatan besar untuk melawan Israel sejak sebulan sebelumnya. Sekitar 200 pesawat Nasser yang utama, kebanyakan adalah MIG 21 buatan Rusia, terperangkap dan dihancurkan saat itu juga. Hampir di saat yang sama, jet-jet Israel membom basis militer Arab di Yordania, Syria, dan Irak. Mereka menyerang dari laut untuk membom basis-basis militer Mesir masuk ke dalam daerah Mesir; dan setelah mendarat hanya untuk mengisi bahan bakar, mereka kembali membom sampai 25 lapangan militer Arab yang terutama tertutup asap. Pilot-pilot Israel begitu mahir sehingga mereka hampir tidak pernah meleset menembak sasaran dengan bom, roket, atau peluru. Foto-foto serangan udara menunjukkan begitu banyak pesawat musuh yang hancur dan terbakar dan hampir tidak ada lubang bekas bom di landasan atau gunungan pasir di sekitar target.

Sampai malam Senin, yang adalah akhir hari pertama perang, sekitar 400 pesawat terbang lima negara-negara Arab telah dimusnahkan. Mesir kehilangan 300, Syria 60, Yordania 35, Irak 15, Lebanon 1. Israel sendiri hanya kehilangan 19 pesawat dan pilot, kebanyakan jatuh oleh tembakan dari darat. Begitu banyak pesawat-pesawat terbang Arab terjebak di tempat parkir mereka sendiri, karena pesawat-pesawat itu diparkir berdempetan, ujung sayap satu pesawat mengenai ujung sayap pesawat yang lain. Hal ini membuat pihak Israel dengan mudah menghancurkan semuanya dengan serangan pertama saja. Para negara Arab yang kaget menyatakan hal itu dan pihak Moskow sangat marah. Tapi, seperti yang dikatakan pihak Israel pada mulanya, pesawat-pesawat jet Yahudi hanya menyerang setelah radar peringatan menangkap adanya serangan udara pesawat-pesawat jet Arab yang langsung menuju Israel. Pada waktu yang sama, sejumlah besar tentara Mesir dilaporkan bergerak dari basis militernya di El Arih menuju perbatasan Israel.

Selain serangan udara, peperangan juga terjadi di berbagai daerah lainnya seperti, Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai, Tepi Barat, Dataran Tinggi Golan, dan peperangan di laut. Di daerah-daerah tersebut Israel melakukan penyerangan terhadap negara-negara Arab seperti Mesir di Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai, Yordania di Tepi Barat, dan Suriah di Dataran Tinggi Golan. Taktik pre-emptive yang dilancarkan oleh Israel mampu membuat pasukan-pasukan negara-negara Arab bertekuk lutut. Kemenangan pun berhasil di raih oleh bangsa Israel setelah berperang kurang lebih enam hari.

  1. B. Akhir Konflik dan Keadaan Pasca Perang

Pada akhir peperangan, Israel berhasil merebut beberapa wilayah. Pada tanggal 11 Juni, Israel menandatangani perjanjian gencatan senjata dan mendapatkan Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat (termasuk Yerusalem Timur), dan Dataran Tinggi Golan. Secara keseluruhan, wilayah Israel bertambah tiga kali lipat, termasuk sekitar satu juta orang Arab yang masuk ke dalam kontrol Israel di wilayah yang baru didapat (banyak dari penduduk wilayah-wilayah tersebut mengungsi ke luar Israel). Batas Israel bertambah paling sedikit 300 km ke selatan, 60 km ke timur, dan 20 km ke utara. Ekspansi wilayah ini sangat mempengaruhi kawasan Timur Tengah secara geopolitik .

Kerugian yang dialami kedua pihak yaitu, dari pihak Israel sebanyak 779 pasukan tewas, 2.563 terluka, 15 tertangkap dan 46 pesawat tertembak jatuh. Sedangkan dari pihak Liga Arab sebanyak 21.000 pasukan meninggal, 45.000  terluka, 6.000 tertangkap dan 400 pesawat dimusnahkan.

Akhir dari perang juga membawa perubahan religius. Di bawah pemerintahan Yordania, orang-orang Yahudi dan Nasrani dilarang memasuki Kota Suci Yerusalem, yang termasuk Tembok Ratapan, situs paling suci orang Yahudi sejak kehancuran Bait Suci mereka. Orang Yahudi merasakan situs-situs Yahudi tidak dirawat, dan kuburan-kuburan mereka telah dinodai.  Setelah dikuasai Israel, pelarangan ini dibalik. Israel mempersulit para pemuda Islam yang ingin beribadah di Masjid Al-Aqsa dengan alasan keamanan, dan hanya orang tua dan anak-anak saja yang diperbolehkan, meskipun Masjid Al-Aqsa dipercayakan di bawah pengawasan wakaf Muslim dan orang-orang Yahudi dilarang untuk beribadah di sana.

Walaupun perang ini telah berakhir, namun menimbulkan dampak kerugian bagi masing-masing pelaku. Apalagi dengan sifat konflik dan perang yang bersifat irreversible sehingga semua yang terjadi akibat konflik dan peperangan tidak bisa kembali seperti semula. Baik dari segi fisik seperti korban jiwa, teritori, sarana dan prasarana maupun yang berdampak psikis seperti hubungan antar pihak yang bertikai serta kesepakatan-kesepakatan yang telah dibangun. Peperangan adalah komunikasi sehingga bersifat irreversible sehingga apabila hal itu telah terjadi maka tidak akan bisa diputarbalikkan atau dikembalikan ke kondisi sebelumnya.

About these ads