Mahasiswa Dan Ban Gundul

Leave a comment

Hiduupp Mahasiswa!!! Mungkin saya sudah mendengar jargon ini ditengah kerumunan orang yang memegang spanduk dan selebaran-selebaran karton yang juga berisi jargon-jargon. Jargon anti-kapitalisme dan juga anti-pemerintah yang otoriter. Juga dihiasi kepulan asap hitam berbau karet menyengat dari ban mobil yang sudah gundul. Ahh… sungguh pemandangan yang sangat indah dan tentu membakar semangat pemuda mahasiswa yang menyerukan kebebasan dari segala ketidakadilan.

Tidak lupa juga suara klakson dan keluhan dari pengguna jalan yang menggerutu. Atau geraman dari sopir angkutan umum yang terhalang untuk mencukupi setorannya hari ini. Memang Aksi membuat lalu lintas lumpuh sekitar beberapa menit dan beberapa menit setelahnya. Sekilas terdengar seperti paradoks yang saling bertentangan. Ketika sekumpulan mahasiswa yang rela berpeluh dan bermandi matahari demi kesejahteraan rakyat, justru menyusahkan rakyat itu sendiri.

Menyusahkan bagaimana? Apakah sama menyusahkannya dengan kelaparan? Atau sama menyusahkannya dengan tidak dapat berobat dan sekolah? Atau mungkin sama menyusahkannya dengan tidur beratap langit dan berlantai timbunan sampah? Mungkin beberapa menit dan beberapa menit setelahnya dari kepulan asap hitam yang menyengat serta carut marut lalu lintas mampu membuat apa yang orang-orang sebut dengan dunia, mampu mendengar walaupun hanya sedikit atau sedetik dari rintihan-rintihan yang menuntut keadilan? Sopir angkutan umum pun dan pengguna jalan lainnya melanjutkan perjalanan setelah api yang membara itu padam. Yah, apinya.

Tentang Negara Maju dan Negara Berkembang

15 Comments

Pertama-tama kita harus menelaah lebih lanjut mengenai istilah “negara maju” dan “negara berkembang” ini. Kedua istilah tersebut merupakan penggolongan negara-negara di dunia berdasarkan kesejahteraan atau kualitas hidup rakyatnya. Negara maju adalah negara yang rakyatnya memiliki kesejahteraan atau kualitas hidup yang tinggi. Sedangkan negara berkembang adalah negara yang rakyatnya memiliki tingkat kesejahteraan atau kualitas hidup taraf sedang atau dalam perkembangan. Istilah ini kemudian dalam Teori Struktural dijelaskan sebagai sistem sosial status-peran yang dikemukakan oleh Talcott Parsons. Yaitu terdapat pembagian status yaitu negara maju dan negara berkembang yang menjalankan perannya masing-masing.

Dalam pelaksanaannya negara berkembang memiliki peran  menyediakan hasil pertanian bagi industri negara maju. Perlu diketahui bahwa peran  tersebut dapat direalisasikan apabila mendapat bantuan keuangan dari negara maju, sehingga negara berkembang semakin bergantung terhadap negara maju. Misalnya Indonesia yang tergantung pada sektor primer atau pertanian dengan modal dari negara maju melalui IMF atau lainnya, cenderung memasok hasil-hasil pertaniannya kepada negara-negara industri atau negara maju itu sendiri. Ironisnya, negara maju yang mendapat pasokan hasil pertanian justru menjual kembali dengan harga tinggi kepada negara berkembang setelah hasil pertanian tersebut diolah. Hal ini mengakibatkan angka konsumsi dari negara berkembang semakin tinggi sementara angka pemasukan dari negara berkembang lebih rendah. Kondisi ini membuat negara berkembang semakin terbelakang dalam hal perekonomian sehingga mereka akan cenderung meminjam uang dari negara maju untuk menyeimbangkan neraca anggaran mereka.

Bantuan luar negeri merupakan instrumen kebijakan yang paling sering digunakan oleh negara-negara maju untuk menjalin hubungan yang kuat dengan negara berkembang. Teori ketergantungan (dependensi) menyatakan bahwa bantuan luar negeri digunakan oleh negara maju untuk mempengaruhi hubungan domestik maupun luar negeri negara penerima bantuan dalam hal ini adalah negara berkembang. Awalnya mereka merangkul elit-elit politik di negara-negara berkembang untuk tujuan komersil dan keamanan nasional, kemudian melalui jaringan internasional, bantuan luar negeri ditujukan untuk mengeksploitasi  secara besar-besaran sumber daya alam negara berkembang. Tidak hanya itu, sumber daya manusia di negara berkembang ingin dijadikan buruh murah serta dijadikan konsumen (pasar) bagi produk-produk negara maju.

Melihat hal ini para penganut teori ketergantungan menganggap bahwa bantuan luar negeri dapat digunakan sebagai salah satu instrumen untuk perlindungan dan ekspansi negara maju ke negara berkembang, inilah yang menjadi faktor penentu hubungan negara maju dan negara berkembang, ketergantungan yang dialami negara maju terhadap negara berkembang. Secara kasat  mata bantuan luar negeri ini terlihat saling menguntungkan kedua belah pihak. Negara berkembang akan memperoleh pinjaman dana, perlengkapan, pengetahuan yang diharapkan mampu mengikuti dinamika ekonomi modern. Jika melihat kepentingan politik negara maju sudah jelas bahwa bantuan luar negeri umumnya tidak ditujukan untuk kepentingan politik jangka pendek melainkan untuk prinsip-prinsip kemanusiaan atau pembangunan ekonomi jangka panjang. Dalam jangka panjang bantuan luar negeri dimaksudkan untuk membantu menjamin beberapa tujuan politik negara maju yang tidak dapat dicapai hanya melalui diplomasi, propaganda atau kebijakan publik. Artinya negara maju dapat mengontrol kebijakan ekonomi dan politik negara berkembang melalui bantuan luar negeri ini.

Pada saat sekarang ini, negara-negara berkembang dihadapkan pada kenyataan bahwa kelangsungan hidup di negara berkembang akan selalu di dominasi oleh negara maju baik dalam bidang ekonomi maupun bidang politik. Negara-negara berkembang pada umumnya terkesan akan selalu siap menerima bantuan yang diberikan oleh negara-negara maju tanpa memikirkan lebih jauh mengenai efek yang akan timbul dalam jangka panjang. Sebaliknya negara maju terus menerus mengeksploitasi negara-negara berkembang., baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Hal ini didukung dengan semakin gencarnya negara-negara maju melakukan ekspansi-ekspansi wilayah ke negara-negara berkembang dengan jalan memberikan bantuan luar negeri atau hibah. Sehingga, hubungan yang terjalin antara negara maju dan negara berkembang hanya menguntungkan bagi negara maju saja.

Perlu diketahui bahwa bentuk kerjasama yang dijalin oleh negara-negara ini merupakan hasil dari perjanjian dimana isi perjanjian tersebut hampir semuanya merupakan cara untuk mencapai tujuan dari kepentingan-kepentingan negara maju. Jika negara berkembang sudah mengikuti perjanjian internasional, tetapi tidak mematuhi peraturan maka negara maju tidak akan segan-segan “menghukum” negara berkembang.

Dengan terjalinnya hubungan ini, negara berkembang semakin didekatkan dengan kenyataan bahwa ketergantungan dengan negara maju sudah semakin besar. Seolah-seolah jika bantuan dari negara maju tidak lagi tersalurkan maka hal ini akan membuat Negara-negara berkembang akan jatuh terpuruk dalam arus persaingan global yang semakin hari semakin membuat kesengsaraan terhadap negara-negara berkembang. Kenyataan bahwa hampir di semua aspek kehidupan negara-negara berkembang selalu bergantung pada negara maju. Negara berkembang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak bisa lepas dari peran negara-negara maju, hal ini sulit dibantah karena sampai saat ini negara berkembang belum mampu untuk melakukannya sendiri. Penyebabnya adalah negara berkembang belum bisa memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh negaranya.

Peran negara maju terutama dirasakan oleh negara berkembang yaitu dalam bidang ekonomi. Dalam bidang politik peran negara maju tidak bisa dipungkiri, ini terlihat dari dominannya campur tangan negara maju terutama Amerika Serikat kedalam politik negara-negara berkembang walaupun tidak secara terang-terangan. Negara-negara berkembang biasanya mengadopsi sistem demokrasi yang secara gencar dipromosikan oleh negara maju. Negara berkembang biasanya mau tidak mau akan menerapkan system demokrasi di negaranya. Karena kebijakan negara maju biasanya tidak mau memberikan bantuan kepada negara yang kurang menghormati.

Peran negara maju dalam bidang politik juga dapat dilihat dari hubungan-hubungan yang terjalin antara negara berkembang dan negara maju dalam konvensi-konvensi internasional. Dalam hubungan-hubungan tersebu terlihat bahwa negara berkembang tidak dapat lepas dari peran negara maju dan selalu berada dibawah cengkraman mereka.

DILEMA SISTEM DAN AKTOR DI NEGARA BERKEMBANG

Leave a comment

Apakah sistem yang bertanggung jawab atas kondisi yang dialami Negara Berkembang ataukah pengaruh pelaku (aktor) yang berada di dalamnya ? Membicarakan masalah ini tidak akan lepas dari dilema klasik mengenai ayam dan telur, apakah yang pertama kali muncul itu ayam ataukah telur. Begitu pula mengenai masalah ini ketika kita masih memperdebatkan siapa yang harus bertanggung jawab apakah sistem ataukah pelaku, kita kemudian akan kembali menghubungkan apakah sistem yang menciptakan bentuk prilaku pelaku ataupun sebaliknya. Namun, jika kita mendalami hubungan ini dengan kacamata tertentu, kita akan menemukan keberpihakan tersendiri dan kecenderungan untuk menentukan solusi dari masalah ini.

Pada dasarnya dalam pengertiannya, sistem menurut John Mc Manama adalah sebuah struktur konseptual yang tersusun dari fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang bekerja sebagai suatu kesatuan organik untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan secara efektif dan efesien. Sedangkan aktor merupakan pelaku yang berperan di dalamnya. Pernyataan ini menjelaskan bahwa sistemlah yang menjadi konsep dasar dan arah untuk mencapai suatu hasil atau tujuan. Walaupun ada aktor-aktor yang menjadi penentu kebijakan, merekapun pasti akan bergerak sesuai arah dan arus sistem `yang berlaku pada saat itu.

Kemudian kita harus kembali menelaah lebih lanjut mengenai istilah “negara maju” dan “negara berkembang” ini. Kedua istilah tersebut merupakan penggolongan negara-negara di dunia berdasarkan kesejahteraan atau kualitas hidup rakyatnya. Negara maju adalah negara yang rakyatnya memiliki kesejahteraan atau kualitas hidup yang tinggi. Sedangkan negara berkembang adalah negara yang rakyatnya memiliki tingkat kesejahteraan atau kualitas hidup taraf sedang atau dalam perkembangan. Istilah ini kemudian dalam Teori Struktural dijelaskan sebagai sistem sosial status-peran yang dikemukakan oleh Talcott Parsons. Yaitu terdapat pembagian status yaitu negara maju dan negara berkembang yang menjalankan perannya masing-masing.

Dalam pelaksanaannya negara berkembang memiliki peran  menyediakan hasil pertanian bagi industri negara maju. Perlu diketahui bahwa peran  tersebut dapat direalisasikan apabila mendapat bantuan keuangan dari negara maju, sehingga negara berkembang semakin bergantung terhadap negara maju. Misalnya Indonesia yang tergantung pada sektor primer atau pertanian dengan modal dari negara maju melalui IMF atau lainnya, cenderung memasok hasil-hasil pertaniannya kepada negara-negara industri atau negara maju itu sendiri. Ironisnya, negara maju yang mendapat pasokan hasil pertanian justru menjual kembali dengan harga tinggi kepada negara berkembang setelah hasil pertanian tersebut diolah. Hal ini mengakibatkan angka konsumsi dari negara berkembang semakin tinggi sementara angka pemasukan dari negara berkembang lebih rendah. Kondisi ini membuat negara berkembang semakin terbelakang dalam hal perekonomian sehingga mereka akan cenderung meminjam uang dari negara maju untuk menyeimbangkan neraca anggaran mereka. Inilah dampak sistem kapitalisme liberal di era hegemoni Neoliberalisme.

Kapitalisme ini tumbuh dari kaum pedagang, maka mereka menujukkan segala produksinya unntuk dijual kembali. Dimulai dengan menanam modal kemudian diolah oleh kaum pekerja menjadi satu komoditi  Setelah jadi, komoditi itu dijual dan hasil keuntungannya ditanamkan lagi menjadi modal baru. Pola ini  kelihatannya wajar dan dapat ita jumpai setiap hari. Namun demikian hal ini mengandung akibat yang besar. Mengenai sistem Neoliberalisme yang membawahi sistem kapitalisme ini , Fidel Castro meyakini bahwa perekonomian global akan semakin memburuk dalam era Hegemoni Neoliberalisme ini. Menurutnya “memburuknya situasi sosial di negara-negara Dunia Ketiga merupakan salah satu menifestasi gamblang globalisasi Neoliberal. Penerapan kebijakan penyesuaian (Program-program Penyesuaian Struktural), krisis finansial, memberikan dampak negatif yang sangat mendalam terhadap realitas sosial negeri-negeri berkembang dan meningkatnya instabilitas yang disebabkan oleh proses globalisasi.”

Dari sini kita dapat melihat bahwa label negara berkembang yang diberikan kepada suatu negara merupakan sistem yang dibuat sedemikian rupa dan tersusun rapi sehingga memberikan dampak sistemik yang berulang-ulang dan hanya akan menguntungkan pihak-pihak tertentu yaitu negara-negara yang berstatus negara maju yang notabene adalah pemilik modal atau kapitalis. Dari sini pulalah kita dapat melihat buruknya sistem ekonomi kapitalisme dari Neoliberalisme ini yang mempengaruhi stabilitas negara-negara yang terlanjur dicap sebagai negara berkembang.

Di lain pihak, jika kita mengaitkan masalah ini dengan penggantian atau pengubahan aktor di dalamnya, itu tidak akan terlalu efektif untuk memperbaiki kondisi yang dialami negara berkembang. Karena jika kita kembali melihat teori strukturalis yang dilontarkan Marx, menganggap bahwa aktor yang berperan dalam sistem ekonomi-politik ini adalah kelas-kelas sosial yaitu kelas borjuis dan proletar. Melakukan pengubahan aktor pengambil kebijakan yang notabene termasuk kaum borjuis adalah hal yang sia-sia. Karena bagaimanapun aktor-aktor itu diubah bentuknya, mereka tetap kaum borjuis dan selalu diuntungkan dengan sistem yang berlaku sekarang ini, yaitu sistem kapitalisme liberal. Selain itu menurut Talcott Parsons, aktor yang menjalankan peran dalam suatu sistem terintegrasi dengan sistem itu sendiri, jadi otomatis aktor akan melakukan perannya sesuai dengan sistem yang berlaku. Jadi, akan sia-sia jika melakukan perubahan aktor tanpa adanya perubahan sistem.

Jadi, kesimpulannya sistem merupakan konsep dasar yang mempengaruhi seluruh pengambilan keputusan dan arah kebijakan serta prilaku yang tercakup dalam negara berkembang. Sehingga dengan melakukan pengubahan pada sistem yang berlaku sekarang yaitu kapitalisme, kepada sistem yang lebih adil dan merata pada seluruh aspek masyarakat. sehingga dapat memperbaiki kondisi negara berkembang ini.

 

Globalisasi dan Nasionalisme

Leave a comment

Arus globalisasi yang begitu cepat merasuk ke seluruh aspek kehidupan manusia seperti ideologi, ekonomi, politik, budaya, serta teknologi telah menimbulkan berbagai tanggapan pro dan kontra masyarakat dunia, ada yang memandangnya sebagai sebuah keniscayaan, ada pula yang melihatnya sebagai agenda yang memang sengaja untuk disebarkan. Dalam hubungannya tentang globalisasi, Cochrane dan Pain menekankan tentang posisi kaum globalis yang percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. Berangkat dari hal ini para penganut globalis positif sebagian orang  percaya itu baik karena akan menghasilkan masyarakat yang toleran dan bertanggung jawab. Namun menurut kaum globalis pesimis melihat hal ini sebagai fenomena negatif dan bentuk penjajahan baru dari barat.

Menurut Friedman, “Globalisasi mencakup 3 dimensi, yaitu dimensi ideologi, ekonomi, dan teknologi. Dimensi ideologi terdiri dari kapitalisme dan nilai nilai individualisme, demokrasi dan ham. Pada dimensi ekonomi memunculkan pasar bebas dengan seperangkat aturan sehingga seperti keharusan adanya kesepakatan bagi terbukanya arus keluar masuk barang dan jasa dari satu negara ke negara lainnya, dimensi teknologi merupakan aspek terpenting dalam  memuluskan jalan  dalam proses pengglobalan.”  Pandangan ini pada dasarnya ingin menerangkan cakupan dari globalisasi, indikasi dari globalisasi dan apa apa yang mendukung berhasilnya proses universalitas dunia. Dalam hal ini globalisasi telah dikukuhkan sebagai sebuah ideologi yang memasukkan kapitalisme dan sifat sifat individualisme sebagai dasar untuk merekayasa sistem dunia. Kapitalisme yang semakin gencar untuk menancapkan pengaruhnya ke seluruh dunia berusaha untuk menerapkan konsep konsep globalisasi agar lebih mudah dalam membuka pasar-pasar baru bagi perekonomian mereka, sifat individualisme akan kembali berkaitan dengan penguatan fungsi negara, kontraproduktif antara fungsi negara dengan konsep globalisasi mengakibatkan peran negara dieliminir atau dihilangkan secara perlahan lahan sebagai akibat  dari tujuan liberalisme dan kapitalisme yang memiliki tiga pilar utama yaitu liberalisasi, privatisasi, dan deregulasi. Atau dengan kata lainglobalisasi menekanakan tidak diperlukannya lagi negara untuk memberikan perannya, semua akan bertumpu pada kemampuan individu.

Melihat hal tersebut para pemikir globalisasi mulai mengaitkan proses globalisasi ini dengan pengaruhnya terhadap nasionalisme. Globalisasi yang membawa semangat universalitas berdampak pada terkikisnya berbagai nilai-nilai sosiokultural di negara-negara dunia. Misalnya pada saat ini sudah melekat didalam diri banyak orang yang mereka anggap bagus hanyalah yang mereka lihat di Tv dan yang berbau luar, mereka akan semakin jauh dari yang namanya kebudayaan lokal, mereka akan menganggap kebudayaan lokal sebagai hal yang kuno dan monoton serta membosankan, mereka tidak akan percaya diri memamerkan kebudayaan lokal, karena dipikirannya serta pikiran kebanyakan orang dilingkungannya bahwa kebudayaan lokal tidak cocok untuk masyarakat sekarang. Hal ini merupakan fenomena yang mampu mengikis semangat nasionalisme ketika masyarakat suatu negara menganggap apa yang dimiliki negaranya seperti budaya tidak penting lagi dan lebih condong kepada budaya dominan yang dibawa oleh proses globalisasi dalam hal ini adalah budaya barat. Hal ini mengakibatkan mereka lebih cenderung bangga dengan segala hal-hal dan produk- produk dari kebudayaan dominan tersebut.

Selain itu yang terlihat pada saat sekarang ini, contohnya di Indonesia yang terjadi hanyalah nasionalisme semu. Yaitu hanya memperlihatkan identitaas sebagai bangsa Indonesia semata dengan cara seperti mengenakan batik, hafal lagu Indonesia raya, mendukung PSSI di kancah persepakbolaan dunia dan hal-hal simbolis lainnya. Namun nilai-nilai nasional yang paling urgen seakan ditinggalkan seperti semangat kebersamaan dan kegotong-royongan digantikan dengan individualisme yang dibawa dalam proses globalisasi. Contohnya etos kerja masyarakat Indonesia yang dulunya saling gotong-royong dan bersama-sama kini seakan tergerus dengan sikap yang individualis, memikirkan diri sendiri, dan etos kerja yang terkesan profesional namun merenggut hak-hak dasar mereka karena yang terpatri hanyalah kerja dan kerja, hal ini dapat dilihat dampaknya pada kaum buruh. Selain itu, sistem kapitalisme yang menjadi agenda proses globalisasi juga mengakibatkan berubahnya mindset bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup menjadi untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya sehingga tidak memedulikan hajat hidup orang lain.

Pandangan Friedman tentang globalisasi  mengenai “Golden Stritjacket” yang menyatakan bahwa globalisasi mengharuskan semua masyarakat di berbagai negara di dunia harus bisa cocok dengan nilai dominan yang dibawanya jika tidak, globalisasi membuat mereka tidak mampu bertahan. Dengan hal tersebut mau tidak mau dan secara sadar tidak sadar mereka semakin mengikis nilai-nilai nasionalisme mereka. Nasionalisme sekarang hanya menjadi semangat untuk mempertahankan kedaulatan ketika ada serangan dan mempertahankan teritorial semata. Nasionalisme tidak dijadikan lagi sebagai semangat untuk mempersatu bangsa dalam segala hal.

TEORI FEMINIS

Leave a comment

Feminism mulai dicetuskan untuk pertama kalinya di tahun 1837 oleh Charles Fourier yang kemudian setelah itu diikuti oleh berbagai gerakan-gerakan oleh kaum perempuan untuk menuntut hak-hak dasar mereka dan tidak ingin lagi perempuan berada di bawah laki-laki. Pada tahun 1830-1840, peradaban di dunia mulai mempertimbangkan keberadaan dan hak-hak perempuan, seperti masalah upah pekerjaan, pendidikan, dan hak pilih.
Perkembangan dan upaya pergerakan yang dilakukan oleh kaum perempuan semakin hari semakin bertambah. Sehingga kajian feminis semakin luas dan memunculkan aliran-aliran feminis , yaitu:
A. Feminis Liberal
Feminis liberal meyakini bahwa masyarakat telah melanggar nilai tentang hak-hak kesetaraan terhadap wanita, terutama cara mendefinisikan wanita sebagai kelompok ketimbang individu-individu. Mahzab ini mengusulkan agar wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Para pendukung femnisme liberal sangat banyak antara lain Johhn Stuart Mill, Harret Taylor, Josephine St. Pierre Rufin, Anna Julia Copper, Ida B wells, Frances E.W Harper, Mary Curch Tessel dan Fannie Barrier Williams (Saulnier, 2000). Gerakan utama feminism liberal tidak mengusulkan perubahan struktur secara fundamental, melainkan memasukkan wanita ke dalam struktur yang ada berdasarkan prinsip kesetaraan dengan laki-laki.
Inti ajaran feminisme liberal :
1. Memfokuskan pada perlakuan yang sama terhadap wanita di luar dari pada didalam keluarga.
2. Memperluas kesempatan dalam pendidikan dianggap sebagai cara paling efektif melakukan perubahan sosial.
3. Pekerjaan-perubahan wanita semisal perawatan anak dan pekerjaan rumah tangga dipandang sebagai pekerjaan tidak terampil yang hanya mengandalkan tubuh bukan pikiran rasional.
4. Perjuangan harus menyentuh kesetaraan politik antara wanita dan laki-laki melalui penguatan perwakilan wanita di ruang-ruang publik. Para feminis liberal aktif memonitor pemilihan umum dan mendukung laki-laki yang memperjuangkan kepentingan wanita.
5. Berbeda dengan para pendahulunya, feminis liberal saat itu cenderung lebih sejalan dengan model liberalisme kesejahteraan atau egalitarian yang mendukung sistem kesejahteraan negara (welfare state) dan meritokrasi.
B. Feminis Radikal
Feminis radikal lahir dari aktifitas dan analis politik mengenai hak-hak sipil dan gerakan-gerakan perubahan social pada tahun 1950an dan 1960an, serta gerakan-gerakan wanita yang semarak pada tahun 1960an-1970an (Saulner, 2000). Namun demikian, mahzab ini dapat dilacak pada para pendukungnya yang lebih awal. Lewat karyanya Vindication of the rights of Women, Mary Wollstonecraft pada tahun 1797 menganjurkan kemandirian wanita dalam bidang ekonomi. Maria Stewart salah satu feminis kulit hitam pertama pada tahun 1830an mengusulkan penguatan relasi diantara wanita kulit hitam.

Elizabeth Cuddy Stanton pada tahun 1880an menentang hak-hak seksual laki-laki terhadap wanita dan menyerang justifikasi keagamaan yang menindas wanita (Saulner, 2000).
Feminis radikal juga dikembangkan dari gerakan-gerakan Kiri Baru (New Left) yang menyatakan bahwa perasaan-perasaan keterasingan dan ketidakberdayaan pada dasarnya diciptakan secara politik dan karenanya transformasi personal melalui aksi-aksi radikal merupakan cara dan tujuan yang paling baik. Mahzab ini secara fundamental, menolak agenda feminism liberal mengenai liberal mengenai kesamaan hak wanita.
Hal yang paling penting adalah dalam feminisme radikal ditekankan sekali tentang laki-laki menindas dan perempuan yang tidak bersalah, mereka terjebak pada esensi dari realitas yang akhirnya mengakibatkan analisa mereka mengalami kebuntutan dan secara politik mereka berbahaya.Mereka juga terlalu menganggap tidak positif terhadap hubungan sex yang heteroseksual karena perempuan lebih banyak dieksploitasi, padahal hubungan ini seharusnya dipelihara dan kedua pihak sesungguhnya hanya ingin mencari kesenangan.
C. Feminis Marxis/Sosialis
Konsep dasar dari feminisme marxis dan sosialis didasarkan pada teori Marx, yang memandang bahwa manusia baru bermakna apabila mereka melakukan kegiatan berproduksi, sehingga dapat dikatakan bahwa manusia lewat berproduksi mnciptakan masyarakat yang kemudian menciptakan atau membentuk mereka.Dari sudut pandang teori ekonomi dipandang bahwa sistem kapitalisme hanya mendasarkan hubungan pertukaran hubngan dan pertukaran kekuasaan yang nantinya mengharapkan surplus value dari hubungan employer dan employee. Sehingga manusia tidak memiliki kebebasan untuk memilih sebab mereka sebagai pekerja yang tertindas.
Feminisme Marxis dari sudut pandang sosial memnunculkan kesadaran kelas yang dikarenakan trjadinya alienasi baik terhadap produk, terhadap dirinya, terhadap masyarakat dan alam sekitarnya. Sedangkan dari sudut pandang politik dilihat adanya perjuangan kelas dan kesatuan para pekerja.
Mereka dalam melihat keluarga adalah laki-laki disektor publik dan perempuan disektor privat dan ini pembagian yang terjadi didalam sistem kapitalis, padahal dalam keluarga tidak sesederhana itu karena didalam keluarga masih merupakan satu-satunya tempat dimana manusia dapat menemukan cinta, keamanan, dan kenyamanan, dan keluarga bukanlah hanya melulu merupakan alat produksi dan hanya melulu membicarakan keuangan semata tetapi juga mereka masih membahas tentang hal-hal penting lainnya yang menyangkut keluarga.Kritk keda yang menyangkut feminisme

sosialis adalah cara mereka memandang bahwa feminisme ini terlalu sedikit membicarakan penindasan laki-laki terhadap perempuan, hal ini dikemukakan oleh feminisme marxis. Feminisme soslialis lebih memperhatikan penindasan utama adalah pada perempuan sebagai pekerja dan juga perempuan sebagai perempuan.
Salah satu contoh kasus dalam pelaksanaan feminisme dalam hal ini adalah feminisme radikal yaitu adanya usaha-usaha melalui aksi-aksi radikal yang memfokuskan pada perasaan-perasaan terasing dan ketidakberdayaan akibat tekanan politik . perhatian terhadap kesadaran sosiopolitik dan konsekuensi kehidupan masyarakat yang tidak adil menjadi tema utama dalam model perawatan kesehatan mental dan masalah-masalah klinis. Satu bentuk usaha kelompok feminis radikal adalah Advocacy for Women and Kids Emergencies (AWAKE). AWAKE ini adalah sebuah program pendampingan dan konseling di wilayah Boston, Amerika Serikat yang ditujukan kepada wanita dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga.
Selain itu, adapula gerakan-gerakan Kaum feminis radikal dalam bidang pengembangan masyarakat meliputi protes terhadap pornografi dengan argument bahwa pornografi mempromosikan kekerasan dan permusuhan terhadap wanita. Mereka mengkampanyekan pendididikan menentang perkosaan dan kekerasan. Selain itu feminis radikal memprakarsai pembentukan” Ekonomi Baru bagi Wanita”, yang merupakan sebuah organisasi pengembangan ekonomi aktivis Amerika Latin yang memperjuangkan perumahan murah yang didesain untuk ibu-ibu yang bekerja di luar rumah. Selain itu salah satu publikasi yang terkenal yang dihasilkan kaum feminis radikal adalah di AS adalah buku the Boston Women’s Health Book Collective yang mendorong wanita untuk mengontrol kesehatan berdasarkan kemampuan dan kemauannya sendiri.

Perang Enam Hari (Perang Antara Israel dan Liga Arab)

1 Comment

Perang mungkin salah satu kondisi yang tidak pernah lepas dari bangsa Israel. Bangsa yang berpenduduk kaum Yahudi ini bertumpu paham Zionisme yang menjadi salah satu kekuatan besar mereka. Bangsa Israel bertumpu pada ideologi Zionisme mereka dan memegang prinsip bahwa ideologi ini harus lebih didasarkan pada solidaritas rasial dan keagamaan daripada kesatuan wilayah dan tanah air. Namun, sebagai bangsa yang hidup di diaspora (perantauan, pengembaraan, pengasingan) menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran bagi mereka. Mereka menyangsikan semakin lebarnya jurang antara cita-cita ideologi mereka dengan realitas yang mereka hadapi. Sehingga, merekapun melakukan konfrontasi dengan bangsa Palestina dan bangsa Arab pada umumnya. Mereka melakukan migrasi ke Palestina dan menetapkan Palestina sebagai “promised land” yang harus mereka rebut dan menjadikannya sebagai wilayah mereka. Perilaku mereka ini berangsur mengubah ideology Zionis mereka menjadi ideologi dan gerakan politik untuk menguasai wilayah di Palestina dan mewujudkan “tanah yang dijanjikan” di Palestina. Untuk mencapai hal ini berbagai konflik dan konfrontasi mereka ciptakan antara mereka dan negara-negara Arab, khususnya Palestina.

Menanggapi sikap dan perilaku Israel yang kurang ajar itu, negara-negara Arab menabuhkan genderang perang pada bangsa Israel. Negara-negara Arab yang sangat mengutamakan solidaritas  antar sesama negara Islam, sangat menentang penindasan-penindasan dan intervensi pada umat Islam secara bersama  menetapkan Israel sebagai  musuh bersama mereka. Mereka mengadakan berbagai perlawanan terhadap Israel baik secara djplomatif dan konfrontatif. Berbagai jalan diplomasi diusahakan dan perang dipecahkan antara bangsa-bangsa Arab untuk melawan perlakuan bangsa Israel. Salah satu perang antar bangsa Arab dan Israel adalah adalah perang yang pecah di antara mereka pada tahun 1967.

Perang antara Arab dan Israel pada tahun 1967 atau yang biasa disebut Perang Enam Hari merupakan perang yang terjadi antara Israel dengan gabungan tiga negara Arab, yaitu Mesir, Yordania, dan Suriah dengan mendapat bantuan aktif dari negara-negara Arab lainnya seperti Arab Saudi, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Sudan. Selain aktor-aktor tersebut pihak Amerika Serikat dan Uni Soviet juga turut memiliki andil atas terjadinya perang tersebut baik dari usaha mendukung masing-masing negara sampai menjadi salah satu pemicu peperangan ini.

Sesuai namanya Perang Enam Hari, perang ini berlangsung kurang dari enam hari atau selama 132 jam 30 menit namun berlangsung enam hari penuh di Suriah. Perang ini mulai pecah pada tanggal 5 Juni 1967 ketika Israel melancarkan serangan terhadap  pangkalan udara Mesir karena takut akan terjadinya invasi oleh Mesir yang telah mempersiapkan 1.000 tank dan 10.000 pasukan yang disiagakan sebelumnya di perbatasan dan memanggil negara-negara Arab lainnya untuk bersatu melawan Israel.

Adapun berbagai latar belakang yang menjadi penyebab terjadinya perang ini adalah :

  1. Akibat Perang Arab-Israel Pada Tahun 1948 Dan 1956

Kekalahan Arab pada perang Arab-Israel pada tahun 1948 dan 1956 menimbulkan ketidakpuasan pada bangsa Arab. Akibat kekalahan itu pasukan UNEF dari  PBB dikirim untuk berjaga-jaga di Semenanjung Sinai Untuk mengamankan daerah itu agar bebas dari tentara dan gerilyawan sehingga perang bisa terhindarkan untuk sementara. Walaupun hal ini sempat mewujudkan perdamaian Mesir dengan Israel, namun hal ini tidak serta merta menyelesaikan konflik. Pada tahun 1956 karena tidak adanya kepastian penyelesaian dan resolusi mengenai masalah-masalah itu menyebabkan keseimbangan yang tidak pasti antar negara-negara Arab dengan Israel. Hal itu membuat negara-negara Arab tidak mengakui kedaulatan Israel, sehingga membuat mereka meendorong gerilyawan-gerilyawan untuk menyerang sasaran-sasaran Israel.

  1. Pengangkut Air Nasional Israel

Pada tahun 1964, Israel mulai mengalihkan air dari Sungai Yordan Ke negara mereka. Hal ini membuat negara-negara Arab membuat rencana pengalihan air juga pada tahun berikutnya. Sehingga, pekerjaan pengalihan air Arab ini di serang oleh angkatan bersenjata Israel di Suriah pada bulan Maret, Mei, dan Agustus pada tahun 1965. Rangkaian kekerasan yang dilakukan Israel di sepanjang perbatasan menjadi salah satu peristiwa yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa lain yang nantinya akan memulai perang.

  1. Peristiwa Samu (Israel Dan Yordania)

Pada tanggal 12 November 1966, seorang polisi perbatasan Israel mnginjak ranjau yang menyebabkan terbunuhnya 3 tentara dan melukai 6 orang lainnya. Isrel menuduh bahwa ranjau itu ditanam oleh kelompok teroris Es Samu. Dari peristiwa itu, Israel mengirimkan pesan kepada Raja Yordania yaitu Raja Hussein bahwa Israel sama sekali tidak akan menyerang Yordania. Namun, Israel tetap meenyerang Es Samu dan menyerang 4.000 penduduk di dalamnya. Aksi ini membuat Israel dianggap melanggar piagam. Penyerangan ini juga menjadi salah satu penyebab perang-perang berikutnya.

  1. Israel Dan Suriah

Suriah yang mendukung serangan-serangan terhadap Israel yang sering memasuki Yordania, mulai menembaki komunitas rakyat Israel di timur Danau Galilea dari posisinya Dataran Tinggi Golan, sebagai bagian dari perselisihan atas penguasaan Zona Demiliterisasi, yaitu tanah kecil yang diklaim oleh Israel dan Suriah. Hal ini semakin memperbesar konflik yang terjadi antara Israel dan Suriah.

  1. Selat Tiran

Pada tanggal 22 Mei 1967, Mesir mengumumkan bahwa mulai dari tanggal 23 Mei 1967, Selat Tiran akan ditutup untuk “semua kapal yang mengibarkan bendera Israel atau membawa bahan-bahan strategik”. Nasser, presiden Mesir juga menyatakan, “Tidak akan membiarkan bendera Israel memasuki Teluk aqaba dengan alasan apapun.”

Melihat hukum internasional, Israel menganggap mesir menyalahi undang-undang jika negara tersebut menutup Selat Tiran. Negara-negara Arab pun memperdebatkan tentang hak Israel melewati selat Tiran karena mereka tidak menandatangani Konvensi PBB tentang peraturan laut terutama karena Pasal 16(4) yang memberikan hak itu pada Israel.

Israel memperhatikan penutupan selat itu secara serius dan meminta bantuan kepada Amerika Serikat dan Britania Raya untuk membuka selat Tiran seperti yang mereka janjikan. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab utama pecahnya perang enam hari.

Peristiwa-peristiwa tersebut menyebabkan banyak terjadinya perang-perang kecil antara Bangsa Arab dan Israel. Di tengah-tengah ketegangan tersebut, Uni Soviet memberikan keterangan kepada Presiden Mesir Gamal Nasser bahwa pasukan Israel sedang berkumpul secara besar-besaran di perbatasan Syria untuk menyerang negara tersebut. Pada kenyataannya, informasi tersebut tidak benar. Uni Soviet sendiri sengaja memberikan keterangan palsu itu untuk mengobarkan radikalisme di Dunia Arab guna membuat kesulitan bagi kepentingan Barat di wilayah tersebut.

Nasser, yang tidak tahu rencana Soviet tersebut, segera mengerahkan pasukan Mesir secara besar-besaran ke perbatasan Mesir-Israel tanpa mempedulikan kesepakatan gencatan senjata sebelumnya yang melarang pengerahan pasukan di sana. Mereka kemudian mengambil alih pos-pos penjagaan yang dijaga pasukan perdamaian PBB. Akan tetapi orang Mesir tidak bertindak sampai di situ. Mereka kemudian melakukan kerja sama militer dengan Suriah, Yordania dan Irak untuk mengepung Israel.

 

  1. A. Kronologi Peperangan

Perang mulai pecah ketika ketika Israel menyerang lebih dahulu. Israel menyerang lapangan terbang tempat di parkirnya pesawat-pesawat tempur milik negara-negara Arab khususnya Mesir. Serangan pre-emptive Israel ini dilakukan dengan cara serangan udara.  Gelombang pertama serangan udara Israel muncul di waktu subuh, dan dalam waktu bersamaan mereka menghancurkan empat lapangan terbang di Jazirah Sinai. Di situlah tempat Presiden Nasser dari Mesir menghimpun kekuatan besar untuk melawan Israel sejak sebulan sebelumnya. Sekitar 200 pesawat Nasser yang utama, kebanyakan adalah MIG 21 buatan Rusia, terperangkap dan dihancurkan saat itu juga. Hampir di saat yang sama, jet-jet Israel membom basis militer Arab di Yordania, Syria, dan Irak. Mereka menyerang dari laut untuk membom basis-basis militer Mesir masuk ke dalam daerah Mesir; dan setelah mendarat hanya untuk mengisi bahan bakar, mereka kembali membom sampai 25 lapangan militer Arab yang terutama tertutup asap. Pilot-pilot Israel begitu mahir sehingga mereka hampir tidak pernah meleset menembak sasaran dengan bom, roket, atau peluru. Foto-foto serangan udara menunjukkan begitu banyak pesawat musuh yang hancur dan terbakar dan hampir tidak ada lubang bekas bom di landasan atau gunungan pasir di sekitar target.

Sampai malam Senin, yang adalah akhir hari pertama perang, sekitar 400 pesawat terbang lima negara-negara Arab telah dimusnahkan. Mesir kehilangan 300, Syria 60, Yordania 35, Irak 15, Lebanon 1. Israel sendiri hanya kehilangan 19 pesawat dan pilot, kebanyakan jatuh oleh tembakan dari darat. Begitu banyak pesawat-pesawat terbang Arab terjebak di tempat parkir mereka sendiri, karena pesawat-pesawat itu diparkir berdempetan, ujung sayap satu pesawat mengenai ujung sayap pesawat yang lain. Hal ini membuat pihak Israel dengan mudah menghancurkan semuanya dengan serangan pertama saja. Para negara Arab yang kaget menyatakan hal itu dan pihak Moskow sangat marah. Tapi, seperti yang dikatakan pihak Israel pada mulanya, pesawat-pesawat jet Yahudi hanya menyerang setelah radar peringatan menangkap adanya serangan udara pesawat-pesawat jet Arab yang langsung menuju Israel. Pada waktu yang sama, sejumlah besar tentara Mesir dilaporkan bergerak dari basis militernya di El Arih menuju perbatasan Israel.

Selain serangan udara, peperangan juga terjadi di berbagai daerah lainnya seperti, Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai, Tepi Barat, Dataran Tinggi Golan, dan peperangan di laut. Di daerah-daerah tersebut Israel melakukan penyerangan terhadap negara-negara Arab seperti Mesir di Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai, Yordania di Tepi Barat, dan Suriah di Dataran Tinggi Golan. Taktik pre-emptive yang dilancarkan oleh Israel mampu membuat pasukan-pasukan negara-negara Arab bertekuk lutut. Kemenangan pun berhasil di raih oleh bangsa Israel setelah berperang kurang lebih enam hari.

  1. B. Akhir Konflik dan Keadaan Pasca Perang

Pada akhir peperangan, Israel berhasil merebut beberapa wilayah. Pada tanggal 11 Juni, Israel menandatangani perjanjian gencatan senjata dan mendapatkan Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat (termasuk Yerusalem Timur), dan Dataran Tinggi Golan. Secara keseluruhan, wilayah Israel bertambah tiga kali lipat, termasuk sekitar satu juta orang Arab yang masuk ke dalam kontrol Israel di wilayah yang baru didapat (banyak dari penduduk wilayah-wilayah tersebut mengungsi ke luar Israel). Batas Israel bertambah paling sedikit 300 km ke selatan, 60 km ke timur, dan 20 km ke utara. Ekspansi wilayah ini sangat mempengaruhi kawasan Timur Tengah secara geopolitik .

Kerugian yang dialami kedua pihak yaitu, dari pihak Israel sebanyak 779 pasukan tewas, 2.563 terluka, 15 tertangkap dan 46 pesawat tertembak jatuh. Sedangkan dari pihak Liga Arab sebanyak 21.000 pasukan meninggal, 45.000  terluka, 6.000 tertangkap dan 400 pesawat dimusnahkan.

Akhir dari perang juga membawa perubahan religius. Di bawah pemerintahan Yordania, orang-orang Yahudi dan Nasrani dilarang memasuki Kota Suci Yerusalem, yang termasuk Tembok Ratapan, situs paling suci orang Yahudi sejak kehancuran Bait Suci mereka. Orang Yahudi merasakan situs-situs Yahudi tidak dirawat, dan kuburan-kuburan mereka telah dinodai.  Setelah dikuasai Israel, pelarangan ini dibalik. Israel mempersulit para pemuda Islam yang ingin beribadah di Masjid Al-Aqsa dengan alasan keamanan, dan hanya orang tua dan anak-anak saja yang diperbolehkan, meskipun Masjid Al-Aqsa dipercayakan di bawah pengawasan wakaf Muslim dan orang-orang Yahudi dilarang untuk beribadah di sana.

Walaupun perang ini telah berakhir, namun menimbulkan dampak kerugian bagi masing-masing pelaku. Apalagi dengan sifat konflik dan perang yang bersifat irreversible sehingga semua yang terjadi akibat konflik dan peperangan tidak bisa kembali seperti semula. Baik dari segi fisik seperti korban jiwa, teritori, sarana dan prasarana maupun yang berdampak psikis seperti hubungan antar pihak yang bertikai serta kesepakatan-kesepakatan yang telah dibangun. Peperangan adalah komunikasi sehingga bersifat irreversible sehingga apabila hal itu telah terjadi maka tidak akan bisa diputarbalikkan atau dikembalikan ke kondisi sebelumnya.

Konflik dan Peperangan

Leave a comment

Perang merupakan salah satu cara yang dipahami oleh beberapa negara dalam menyelesaikan konflik serta masalah yang mereka hadapi dengan negara lain di samping cara diplomasi. Perang dalam arti sempit adalah kondisi permusuhan dengan menggunakan kekerasan dan biasanya menggunakan senjata sehingga perang seringkali membawa kerugian bagi para pelakunya. Perang juga diartikan sebagai sebuah aksi fisik maupun non fisik antara dua atau lebih kelompok manusia untuk melakukan dominasi di wilayah yang dipertentangkan sehingga dari definisi ini tujuan perang sesungguhnya adalah untuk melakukan dominasi terhadap pihak lainnya. Hal tersebut dilakukan dengan cara menundukkan pihak musuh. Jadi, perang merupakan upaya untuk memelihara dominasi dan persaingan sebagai sarana memperkuat eksistensi diri dengan cara menundukkan kehendak pihak yang dimusuhi baik secara fisik maupun psikologis. Perang biasanya disebabkan oleh perbedaan ideologi dan kepentingan yang memicu konflik, keinginan untuk memeperluas wilayah kekuasaan dan perampasan sumber daya alam.

Konflik merupakan penyebab utama terjadinya perang. Konflik yang terjadi dalam tubuh dua pihak atau lebih memuncukan perselisihan, pertikaian, dan perpecahan di antara mereka. Pada dasarnya konflik diambil dari kata configere yang berarti saling memukul ,sehingga konflik adalah upaya untuk saling menghancurkan satu sama lain. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai proses social antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) di mana satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tak berdaya. Konflik terjadi apabila ada satu kondisi dimana sekelompok orang dengan sekolompok orang yang lain menginginkan tujuan yang berbeda, “The term conflict usually refers to a condition in wich one identifiable group of human beings (whether tribal, ethnic, linguistic, cultural, religious, socio-economic, political or other) is engaged in concious opposition to one or more other identifiable human groups because this groups are pursuing what are or appear to be compatible goals.” (Dougherty, Pfaltzgraff, 1971 : 139). Konflik ini diakibatkan oleh berbagai hal seperti perbedaan ideologi, perbedaan kepentingan dan ketidaksamaan persepsi akan suatu hal. Adapun faktor-faktor penyebab konflik :

 

1.  Perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.

Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya.

2. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi  yang berbeda.

Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda.

3. Perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.

Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehidupan masyarakat yang telah ada.

Konflik tidak serta merta muncul dalam masyarakat atau kelompok. Untuk menjadi sebuah konflik ada tahap eskalasi yang dilalui. Sebelum terjadi konflik biasanya terdapat perbedaan pendapat antar masyarakat dan kelompok. Kemudian akan timbul perselisihan antar kelompok yang berbeda pendapat yang berlanjut pada pertikaian. Pertikaian-pertikaian yang terjadi akan menimbulkan konflik terbatas yang berangsur-angsur menjadi konflik terbuka. Apabila konflik sudah mencapai puncaknya dan tidak bisa lagi diselesaikan dengan negosiasi maupun diplomasi maka biasanya akan mulai menjurus ke peperangan yaitu konflik yang menggunakan kekuatan dan senjata.

Older Entries