Sistem kapitalisme yang muncul sejak ratusan tahun yang lalu merupakan sistem yang paling berpengaruh dalam sistem ekonomi­-politik dunia hingga saat ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana sistem kapitalisme ini bisa mengintervensi bahkan mengatur kekuatan politik dunia melalui sitem perekonomian kapitalnya. Sistem kapitalisme yang berasaskan tiga hal yaitu eksploitasi, ekspansi dan akumulasi modal ini bahkan telah menyentuh ranah-ranah geopolitik dunia. Demikian hal tersebut terjadi karena kapitalisme adalah sebuah sistem yang hidup dari penghisapan berbagai sumber daya sehingga ekspansi menjadi salah satu gerak-gerak politik kaum kapitalis dalam melaksanakan kepentingan-kepentingan ekonomi mereka dan secara langsung bersinggungan dengan sistem geopolitik dunia.

Berbagai teori dan pandangan pun dicetuskan oleh berbagai pemikir-pemikir di dunia mengenai sistem kapitalisme ini. Teori-teori tersebut digunakan untuk membedah bagaimana sistem perekonomian kapitalis ini bisa sangat mempengaruhi sistem politik dunia. Teori-teori tersebut salah satunya adalah World System Theory (Teori Sistem Dunia) yang dicetuskan Wallerstein.

World System Theory atau Teori Sistem Dunia yang dicetuskan oleh Wallerstein adalah teori berkembang pada tahun 1970an sampai 1980an. Teori ini lahir dari dialektika (tesis-antitesis-sintes) yang terjadi dari salah satu teori kaum kapital yang disebut teori modernisasi. Yaitu pada awalnya muncul teori modernisasi yang kemudian dikritik oleh kaum strukturalis seperti Andre Gunder Frank, Samir Amin dan Immanuel Wallerstein yang mecetuskan teori dependensi atau teori ketergantungan. Teori ketergantungan ini merupakan reaksi dari teori modernisasi yang melihat bahwa telah terjadi ketimpangan nilai tukar hingga eksploitasi negara periphery oleh negara inti. Melihat  kontadiktif ke dua pandangan ini, maka lahirlah teori sistem dunia. Teori sistem dunia merupakan pandangan yang menyempurnakan atau melengkapi pandangan modernisasi dan ketergantungan.

Teori Sistem Dunia pada umumnya menjelaskan mengenai klasifikasi akibat dari dinamika ekonomi dunia kapitalis atau sistem dunia yang terjadi sekarang adalah kapitalisme global. Artinya teori ini membagi kategori-kategori tertentu dalam penempatan dunia. Adapun kategori-kategori klasifikasi dari teori ini adalah :

  1. Negara Core atau negara inti adalah wilayah yang mendapatkan keuntungan lebih banyak dari ekonomi kapitalis . Negara-negara yang pertama kali berkembang menjadi negara inti adalah negara-negaara Eropa Barat daya seperti Inggris, Perancis, dan Belanda.. Secara politik negara-nefgara ini memiliki pemerintahan pusat yang kuat dan kekuatan pasukan militer yang kuat.,
  2. Negara Semi Periphery adalah wilayah pusat (core) yang mengalami kemunduran atau “periphery attempting” untuk mengembangkan posisi relatif mereka atau wilayah-wilayah yang sedang beranjak membangun kekuatan eko-pol mereka sehingga mengalami kenaikan kelas dari status Periphery.
  3. Periphery adalah negara atau wilayah yang memiliki pemerintahan pusat yang lemah atau diatur oleh Negara lain, mengekspor bahan mentah ke negara core, serta presentasi angka kemiskinan tinggi pada negara ini.

Berdasarkan stratifikasi diatas setiap negara bisa naik kelas atau turun kelas tergantung dinamika sistem dunia tersebut (Core-Semi pheripery-Pheripery). Klasifikasi diatas didasari oleh kekuatan ekonomi-politik masing-masing kelompok. Jadi dengan membangun kekuatan ekonomi mereka, mereka dapat berkompetisi memperebutkan stratifikasi tertinggi yaitu Core. Dengan menjadi negara inti, suatu negara dapat memberikan dan menanamkan pengaruhnya ke seluruh dunia, atau biasa disebut Hegemoni. Dengan hal ini mereka dapat dengan mudah melakukan ekspansi atau memperluas kekuasaan mereka baik secara fisik seperti luas wilayah mereka, jangkauan militer mereka atau bahkan yang abstrak seperti penguasaan sistem ekonomi negar-negara lain, sehingga secara tidak langsung mereka dapat mengusai sistem politik dunia.

Berbicara tentang hegemoni, pengaruh yang besar terhadap dunia ini biasanya juga dikuasai oleh negara yang memiliki kewenangan dan kekuasaan besar juga atau biasa disebut negara  pemimpin dunia. Modelski melihat fenomena ini dan melahirkan suatu teori yang disebut Long cycle of global poltics atau siklus panjang politik internasional yang melihat bahwa dunia ini akan ada negara yang memimpin dalam jangka waktu tertentu dan ini terjadi secara siklus.

Sebagai salah satu teori yang melihat sebuah fenomena, teori Long cycle of global poltics memiliki beberapa asumsi-asumsi dasar yang membangun teori ini. Asumsi dasar teori siklus panjang politik yakni:

  1. Pemerintahan dunia membutuhkan kepemimpinan,
  2. Kepemimpinan muncul dari perang global dan, tanpa pengecualian, penantang telah gagal saat menghadapi itu. Pemimpin global yang keluar biasanya digantikan oleh mitra atau sekutu;
  3. Kepemimpinan dunia membutuhkan daya laut;
  4. Evolusi politik internasional didasarkan pada model siklus, di mana dominasi sistem internasional oleh kekuatan terkemuka normal berlangsung sekitar 100 sampai 120 tahun. Portugis menjadi penguasa politik pada abad 16, Belanda pada abad 17, Inggris pada abad 18 –awal 19, dan Amerika hingga kini.

Modelski bergantung pada teori Sistem Masyarakat Modern dari sosiolog Amerika yang terkenal, Talcott Parsons, untuk mendukung asumsi tentang kebutuhan untuk pemimpin dalam sistem politik global. Menurut Parsons, “sistem sosial yang dibentuk oleh negara dan proses interaksi sosial antar unit bertindak”. Parsons membagi sistem sosial modern menjadi empat subsistem sesuai dengan fungsinya yaitu ekonomi, pemerintahan, masyarakat sosial, dan pemeliharaan pola. Dengan pola-pola ini harus ada pemimpin yang mampu mengkoordinir jalannya sistem masyarakat ini.

Namun adapula kriteria yang harus dipenuhi unutk menjadi pemimpin ini, yaitu ada empat unsur :

  1. kondisi geopolitik (pulau atau lokasi Semenanjung);
  2. politik domestik yang stabil dan terbuka
  3. sistem perekonomian yang mampu memimpin;
  4. strategi organisasi politik (khususnya, angkatan laut yang kuat)

Di antara keempat unsur ini,  Modelski menempatkan penekanan ekstra pada pentingnya lokasi geopolitik dan kekuatan angkatan laut. Dia berpendapat bahwa empat pemimpin dunia pada masing-masing siklus memiliki kondisi Geopolitik yang baik, seperti letak geografis yang sulit dijangkau musuh untuk menyerang. Selain itu strategi organisasi politiknya juga harus kuat, dalam hal ini adalah pada bidang militer khususnya angkatan laut. Hal-hal inilah yang menjadi unsur terpenting yang harus dimiliki negara yang ingin memimpin dunia.

Dari kedua teori dan pandangan diatas kita dapat melihat bahwa untuk menciptakan National Power yang besar dalam sistem politik dunia maka yang harus dibangun adalah sistem ekonomi-politik yang kuat dan kondisi geopolitik yang mendukung. Salah satu contohnya adalah AS yang menerapkan sistem kapitalisme dalam bidang ekonominya, mereka melakukan eksploitasi yang merugikan negara-negara kecil lainnya mampu menguasai sistem ekonomi negara-negara lain khususnya negara-negara pinggiran. Dengan hal itu mereka dengan akan mudah melakukan ekspansi ke berbagai wilayah seperti menempatkan pangkalan militer mereka di berbagai negara sehingga mampu menjadi polisi dunia dan memegang tongkat kepemimpinan pada siklus ini.