Apakah sistem yang bertanggung jawab atas kondisi yang dialami Negara Berkembang ataukah pengaruh pelaku (aktor) yang berada di dalamnya ? Membicarakan masalah ini tidak akan lepas dari dilema klasik mengenai ayam dan telur, apakah yang pertama kali muncul itu ayam ataukah telur. Begitu pula mengenai masalah ini ketika kita masih memperdebatkan siapa yang harus bertanggung jawab apakah sistem ataukah pelaku, kita kemudian akan kembali menghubungkan apakah sistem yang menciptakan bentuk prilaku pelaku ataupun sebaliknya. Namun, jika kita mendalami hubungan ini dengan kacamata tertentu, kita akan menemukan keberpihakan tersendiri dan kecenderungan untuk menentukan solusi dari masalah ini.

Pada dasarnya dalam pengertiannya, sistem menurut John Mc Manama adalah sebuah struktur konseptual yang tersusun dari fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang bekerja sebagai suatu kesatuan organik untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan secara efektif dan efesien. Sedangkan aktor merupakan pelaku yang berperan di dalamnya. Pernyataan ini menjelaskan bahwa sistemlah yang menjadi konsep dasar dan arah untuk mencapai suatu hasil atau tujuan. Walaupun ada aktor-aktor yang menjadi penentu kebijakan, merekapun pasti akan bergerak sesuai arah dan arus sistem `yang berlaku pada saat itu.

Kemudian kita harus kembali menelaah lebih lanjut mengenai istilah “negara maju” dan “negara berkembang” ini. Kedua istilah tersebut merupakan penggolongan negara-negara di dunia berdasarkan kesejahteraan atau kualitas hidup rakyatnya. Negara maju adalah negara yang rakyatnya memiliki kesejahteraan atau kualitas hidup yang tinggi. Sedangkan negara berkembang adalah negara yang rakyatnya memiliki tingkat kesejahteraan atau kualitas hidup taraf sedang atau dalam perkembangan. Istilah ini kemudian dalam Teori Struktural dijelaskan sebagai sistem sosial status-peran yang dikemukakan oleh Talcott Parsons. Yaitu terdapat pembagian status yaitu negara maju dan negara berkembang yang menjalankan perannya masing-masing.

Dalam pelaksanaannya negara berkembang memiliki peran  menyediakan hasil pertanian bagi industri negara maju. Perlu diketahui bahwa peran  tersebut dapat direalisasikan apabila mendapat bantuan keuangan dari negara maju, sehingga negara berkembang semakin bergantung terhadap negara maju. Misalnya Indonesia yang tergantung pada sektor primer atau pertanian dengan modal dari negara maju melalui IMF atau lainnya, cenderung memasok hasil-hasil pertaniannya kepada negara-negara industri atau negara maju itu sendiri. Ironisnya, negara maju yang mendapat pasokan hasil pertanian justru menjual kembali dengan harga tinggi kepada negara berkembang setelah hasil pertanian tersebut diolah. Hal ini mengakibatkan angka konsumsi dari negara berkembang semakin tinggi sementara angka pemasukan dari negara berkembang lebih rendah. Kondisi ini membuat negara berkembang semakin terbelakang dalam hal perekonomian sehingga mereka akan cenderung meminjam uang dari negara maju untuk menyeimbangkan neraca anggaran mereka. Inilah dampak sistem kapitalisme liberal di era hegemoni Neoliberalisme.

Kapitalisme ini tumbuh dari kaum pedagang, maka mereka menujukkan segala produksinya unntuk dijual kembali. Dimulai dengan menanam modal kemudian diolah oleh kaum pekerja menjadi satu komoditi  Setelah jadi, komoditi itu dijual dan hasil keuntungannya ditanamkan lagi menjadi modal baru. Pola ini  kelihatannya wajar dan dapat ita jumpai setiap hari. Namun demikian hal ini mengandung akibat yang besar. Mengenai sistem Neoliberalisme yang membawahi sistem kapitalisme ini , Fidel Castro meyakini bahwa perekonomian global akan semakin memburuk dalam era Hegemoni Neoliberalisme ini. Menurutnya “memburuknya situasi sosial di negara-negara Dunia Ketiga merupakan salah satu menifestasi gamblang globalisasi Neoliberal. Penerapan kebijakan penyesuaian (Program-program Penyesuaian Struktural), krisis finansial, memberikan dampak negatif yang sangat mendalam terhadap realitas sosial negeri-negeri berkembang dan meningkatnya instabilitas yang disebabkan oleh proses globalisasi.”

Dari sini kita dapat melihat bahwa label negara berkembang yang diberikan kepada suatu negara merupakan sistem yang dibuat sedemikian rupa dan tersusun rapi sehingga memberikan dampak sistemik yang berulang-ulang dan hanya akan menguntungkan pihak-pihak tertentu yaitu negara-negara yang berstatus negara maju yang notabene adalah pemilik modal atau kapitalis. Dari sini pulalah kita dapat melihat buruknya sistem ekonomi kapitalisme dari Neoliberalisme ini yang mempengaruhi stabilitas negara-negara yang terlanjur dicap sebagai negara berkembang.

Di lain pihak, jika kita mengaitkan masalah ini dengan penggantian atau pengubahan aktor di dalamnya, itu tidak akan terlalu efektif untuk memperbaiki kondisi yang dialami negara berkembang. Karena jika kita kembali melihat teori strukturalis yang dilontarkan Marx, menganggap bahwa aktor yang berperan dalam sistem ekonomi-politik ini adalah kelas-kelas sosial yaitu kelas borjuis dan proletar. Melakukan pengubahan aktor pengambil kebijakan yang notabene termasuk kaum borjuis adalah hal yang sia-sia. Karena bagaimanapun aktor-aktor itu diubah bentuknya, mereka tetap kaum borjuis dan selalu diuntungkan dengan sistem yang berlaku sekarang ini, yaitu sistem kapitalisme liberal. Selain itu menurut Talcott Parsons, aktor yang menjalankan peran dalam suatu sistem terintegrasi dengan sistem itu sendiri, jadi otomatis aktor akan melakukan perannya sesuai dengan sistem yang berlaku. Jadi, akan sia-sia jika melakukan perubahan aktor tanpa adanya perubahan sistem.

Jadi, kesimpulannya sistem merupakan konsep dasar yang mempengaruhi seluruh pengambilan keputusan dan arah kebijakan serta prilaku yang tercakup dalam negara berkembang. Sehingga dengan melakukan pengubahan pada sistem yang berlaku sekarang yaitu kapitalisme, kepada sistem yang lebih adil dan merata pada seluruh aspek masyarakat. sehingga dapat memperbaiki kondisi negara berkembang ini.