Arus globalisasi yang begitu cepat merasuk ke seluruh aspek kehidupan manusia seperti ideologi, ekonomi, politik, budaya, serta teknologi telah menimbulkan berbagai tanggapan pro dan kontra masyarakat dunia, ada yang memandangnya sebagai sebuah keniscayaan, ada pula yang melihatnya sebagai agenda yang memang sengaja untuk disebarkan. Dalam hubungannya tentang globalisasi, Cochrane dan Pain menekankan tentang posisi kaum globalis yang percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. Berangkat dari hal ini para penganut globalis positif sebagian orang  percaya itu baik karena akan menghasilkan masyarakat yang toleran dan bertanggung jawab. Namun menurut kaum globalis pesimis melihat hal ini sebagai fenomena negatif dan bentuk penjajahan baru dari barat.

Menurut Friedman, “Globalisasi mencakup 3 dimensi, yaitu dimensi ideologi, ekonomi, dan teknologi. Dimensi ideologi terdiri dari kapitalisme dan nilai nilai individualisme, demokrasi dan ham. Pada dimensi ekonomi memunculkan pasar bebas dengan seperangkat aturan sehingga seperti keharusan adanya kesepakatan bagi terbukanya arus keluar masuk barang dan jasa dari satu negara ke negara lainnya, dimensi teknologi merupakan aspek terpenting dalam  memuluskan jalan  dalam proses pengglobalan.”  Pandangan ini pada dasarnya ingin menerangkan cakupan dari globalisasi, indikasi dari globalisasi dan apa apa yang mendukung berhasilnya proses universalitas dunia. Dalam hal ini globalisasi telah dikukuhkan sebagai sebuah ideologi yang memasukkan kapitalisme dan sifat sifat individualisme sebagai dasar untuk merekayasa sistem dunia. Kapitalisme yang semakin gencar untuk menancapkan pengaruhnya ke seluruh dunia berusaha untuk menerapkan konsep konsep globalisasi agar lebih mudah dalam membuka pasar-pasar baru bagi perekonomian mereka, sifat individualisme akan kembali berkaitan dengan penguatan fungsi negara, kontraproduktif antara fungsi negara dengan konsep globalisasi mengakibatkan peran negara dieliminir atau dihilangkan secara perlahan lahan sebagai akibat  dari tujuan liberalisme dan kapitalisme yang memiliki tiga pilar utama yaitu liberalisasi, privatisasi, dan deregulasi. Atau dengan kata lainglobalisasi menekanakan tidak diperlukannya lagi negara untuk memberikan perannya, semua akan bertumpu pada kemampuan individu.

Melihat hal tersebut para pemikir globalisasi mulai mengaitkan proses globalisasi ini dengan pengaruhnya terhadap nasionalisme. Globalisasi yang membawa semangat universalitas berdampak pada terkikisnya berbagai nilai-nilai sosiokultural di negara-negara dunia. Misalnya pada saat ini sudah melekat didalam diri banyak orang yang mereka anggap bagus hanyalah yang mereka lihat di Tv dan yang berbau luar, mereka akan semakin jauh dari yang namanya kebudayaan lokal, mereka akan menganggap kebudayaan lokal sebagai hal yang kuno dan monoton serta membosankan, mereka tidak akan percaya diri memamerkan kebudayaan lokal, karena dipikirannya serta pikiran kebanyakan orang dilingkungannya bahwa kebudayaan lokal tidak cocok untuk masyarakat sekarang. Hal ini merupakan fenomena yang mampu mengikis semangat nasionalisme ketika masyarakat suatu negara menganggap apa yang dimiliki negaranya seperti budaya tidak penting lagi dan lebih condong kepada budaya dominan yang dibawa oleh proses globalisasi dalam hal ini adalah budaya barat. Hal ini mengakibatkan mereka lebih cenderung bangga dengan segala hal-hal dan produk- produk dari kebudayaan dominan tersebut.

Selain itu yang terlihat pada saat sekarang ini, contohnya di Indonesia yang terjadi hanyalah nasionalisme semu. Yaitu hanya memperlihatkan identitaas sebagai bangsa Indonesia semata dengan cara seperti mengenakan batik, hafal lagu Indonesia raya, mendukung PSSI di kancah persepakbolaan dunia dan hal-hal simbolis lainnya. Namun nilai-nilai nasional yang paling urgen seakan ditinggalkan seperti semangat kebersamaan dan kegotong-royongan digantikan dengan individualisme yang dibawa dalam proses globalisasi. Contohnya etos kerja masyarakat Indonesia yang dulunya saling gotong-royong dan bersama-sama kini seakan tergerus dengan sikap yang individualis, memikirkan diri sendiri, dan etos kerja yang terkesan profesional namun merenggut hak-hak dasar mereka karena yang terpatri hanyalah kerja dan kerja, hal ini dapat dilihat dampaknya pada kaum buruh. Selain itu, sistem kapitalisme yang menjadi agenda proses globalisasi juga mengakibatkan berubahnya mindset bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup menjadi untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya sehingga tidak memedulikan hajat hidup orang lain.

Pandangan Friedman tentang globalisasi  mengenai “Golden Stritjacket” yang menyatakan bahwa globalisasi mengharuskan semua masyarakat di berbagai negara di dunia harus bisa cocok dengan nilai dominan yang dibawanya jika tidak, globalisasi membuat mereka tidak mampu bertahan. Dengan hal tersebut mau tidak mau dan secara sadar tidak sadar mereka semakin mengikis nilai-nilai nasionalisme mereka. Nasionalisme sekarang hanya menjadi semangat untuk mempertahankan kedaulatan ketika ada serangan dan mempertahankan teritorial semata. Nasionalisme tidak dijadikan lagi sebagai semangat untuk mempersatu bangsa dalam segala hal.