Hiduupp Mahasiswa!!! Mungkin saya sudah mendengar jargon ini ditengah kerumunan orang yang memegang spanduk dan selebaran-selebaran karton yang juga berisi jargon-jargon. Jargon anti-kapitalisme dan juga anti-pemerintah yang otoriter. Juga dihiasi kepulan asap hitam berbau karet menyengat dari ban mobil yang sudah gundul. Ahh… sungguh pemandangan yang sangat indah dan tentu membakar semangat pemuda mahasiswa yang menyerukan kebebasan dari segala ketidakadilan.

Tidak lupa juga suara klakson dan keluhan dari pengguna jalan yang menggerutu. Atau geraman dari sopir angkutan umum yang terhalang untuk mencukupi setorannya hari ini. Memang Aksi membuat lalu lintas lumpuh sekitar beberapa menit dan beberapa menit setelahnya. Sekilas terdengar seperti paradoks yang saling bertentangan. Ketika sekumpulan mahasiswa yang rela berpeluh dan bermandi matahari demi kesejahteraan rakyat, justru menyusahkan rakyat itu sendiri.

Menyusahkan bagaimana? Apakah sama menyusahkannya dengan kelaparan? Atau sama menyusahkannya dengan tidak dapat berobat dan sekolah? Atau mungkin sama menyusahkannya dengan tidur beratap langit dan berlantai timbunan sampah? Mungkin beberapa menit dan beberapa menit setelahnya dari kepulan asap hitam yang menyengat serta carut marut lalu lintas mampu membuat apa yang orang-orang sebut dengan dunia, mampu mendengar walaupun hanya sedikit atau sedetik dari rintihan-rintihan yang menuntut keadilan? Sopir angkutan umum pun dan pengguna jalan lainnya melanjutkan perjalanan setelah api yang membara itu padam. Yah, apinya.